Wednesday, May 26

Senin kemarin gue nonton konser Menuju Bintang AFI 1 sama Siti Nurhaliza dan AFM (Akademi Fantasi Malaysia). Acaranya lumayan baguslah. Masing-masing negara menampilkan akademia yang dianggapnya paling baik. Dan inilah yang membuat gue heran. Kita tahu bersama (yg belum tau gue kasi tau sekarang..hehehe) bahwa pemenang AFI 1 itu Veri. But why oh why tadi malam tak sekalipun dia menyanyi sendirian? Dia cuma nyanyi sekali pada awaL acara bersama Akademia cowok lainnya. Habis itu Fullstop Titik Punkt. Gak tau deh dia dimana. Malah munculnya jadi penari latar Mawar. Koq gak nyanyi ya? Emang sih bukan hanya dia yang begitu. Ada lagi seperti Dicky dan Ve yang cuma sekali dikasi kesempatan nyanyi itupun seperti Veri bareng-bareng. Beban untuk menjaga nama baik AFI 1 sepertinya diberikan kepada Kia, Smile, Mawar dan Rini. Mereka ini sepertinya nyanyi lebih dari 3 lagu, baik secara solo maupun bersama-sama. Akademia lain seperti Romi, Yeni, Hera, Lastmi, Icha juga dapat kesempatan unjuk gigi meskipun gak sebanyak 4 akademia tadi.

Yang jadi pertanyaan gue adalah, kalo melihat kenyataan diatas sebenarnya yang (pantas) jadi juara AFI siapa sih? Emang AFI itu katanya bukan kontes nyanyi tapi kontes popularitas. Tapi komoditi yang dijual oleh pesertanyakan suaranya. Yang setiap minggu mereka sodorkan untuk kita lahap adalah suara mereka, tentu dibarengi dengan penampilan panggung yang menawan, wajah polesan yang menggetarkan hati, tapi tetep aja suara yang jadi patokan utama ulasan para komentator. Bukan yang lain! Kalo misalnya penampilan wajah, maka tentu saja komentatornya akan diambil dari Martha Tilaar atau Mustika Ratu misalnya. Kalo aksi koreo-nya, pasti Ari Tulang, Didik Ninik Thowok yang jadi komentatornya. Tapi karena komentatornya semacam Trie Utami, Ruth Sahanaya, Harvey M, Glenn, yang sama-sama kita ketahui adalah penyanyi-penyayi kelas wahid negeri ini, pastilah suara yang jadi pertimbangan utamanya. Jadi sudah sepantasnyalah yang menang itu yang memiliki suara yang baik. Mungkin bukan yang terbaik tetapi setidaknya bisa dipertanggungjawabkan. Let say, kalo juara AFI itu suaranya harus dapat nilai 7 dari skala 10. Mungkin ada 5 orang yang melewati batas tadi. Yang paling bagus suaranya misalnya kita kasi nilai 8,0. Tapi yang menang adalah yang memiliki nilai hanya 7,2. Tapi dia menutupi kekalahannya pada suara dengan penampilan yg menarik, sikap yg simpatik, sehingga orang jadi simpati. So the best does not always become the winner. Iniilah memang susahnya kalo yang menentukan pemenang bukan panel juri yang memang berkompeten di bidangnya, tetapi SMS dari pemirsa yang tentu saja kebanyakan akan memilih bukan berdasarkan kualitas output suara yang para kontestan tetapi berdasarkan faktor like dan dislike, simpati, dan kasihan, dan lain-lain yang semuanya gak ada hubungannya dengan suara. So, kalo kenyataannya seperti tadi Veri (juara 1), Ve (juara 4), Dicky (juara 6) 'kalah' dengan Rini (juara 5), Smile (juara 7/8 sori lupa.. ) bahkan Lastmi, Hera yang notabene sudah terbuang sejak hari-hari awal eleminasi, siapa yang bisa disalahkan? Penonton yang menobatkan mereka? Pengajar yang gak bisa meng-upgrade kemampuan mereka? atau siapa? Kalo pada akhirnya para akademia tadi tidak mampu memberikan sesuatu sesuai dengan level yang diharapkan dari mereka, kita, yang dulu ikut menobatkan akademia itu lewat guyuran SMS, patut ambil bagian menanggung kesalahan itu. Tetapi akhirnya gue berpikir, ini kan hanya sekedar kontes-kontesan. Kita terhibur olehnya sehingga kita rela mengeluarkan dana kita untuk mengirim SMS dengan tarif premium untuk mendukung favorit kita. Apa salahnya sekali-sekali salah pilih!
Asal jangan salah pilih pemimpin aja ya... CIAO

0 Comments:

Post a Comment

<< Home